B Anak dan Bahaya Rokok Masih Mengintai Anak Indonesia, STPI & IYCTC : Kebijakan dan Integrasi Layanan Harus Diperkuat

B Anak dan Bahaya Rokok Masih Mengintai Anak Indonesia, STPI & IYCTC : Kebijakan dan Integrasi Layanan Harus Diperkuat

B Anak dan Bahaya Rokok Masih Mengintai Anak Indonesia, STPI & IYCTC :  Kebijakan dan Integrasi Layanan Harus Diperkuat

Jakarta —  Stop  TB  Partnership  Indonesia  (STPI)  bersama  Indonesian  Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) menyelenggarakan X-Space membahas persoalan rokok dan tuberkulosis (TB), dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Diskusi ini digelar berangkat dari keprihatinan bahwa setiap jam, sekitar 17 orang di Indonesia meninggal dunia akibat TB. Ironisnya, isu ini jarang menjadi perbincangan publik, sangat kontras dibandingkan  riuhnya  perhatian  saat  pandemi  COVID-19.  Padahal,  menurut  WHO  Global Tuberculosis  Report,  angka  kematian  akibat  TB  di  Indonesia  secara  konsisten  lebih  tinggi daripada COVID-19 pada masa endemik.

Permasalahan  ini  kian  mengkhawatirkan  karena  salah  satu  pemicu  utamanya  berasal  dari lingkungan rumah tangga, yaitu asap rokok. Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021  yang  dirilis  Kementerian  Kesehatan  bersama  WHO  pada 2024 menunjukkan ada sekitar 70,2 juta konsumen tembakau dewasa di Indonesia. Dampaknya, anak-anak yang tumbuh sebagai perokok  pasif  di  rumahnya  memiliki  sistem  pertahanan  saluran  napas  yang  lemah.  Hal  ini membuat  mereka,  terutama  balita,  lebih  rentan  terinfeksi  Mycobacterium  tuberculosis  hingga berkembang menjadi TB aktif.   Kesenjangan  perhatian  inilah  yang  mendorong  Stop  TB  Partnership  Indonesia  (STPI)  dan Indonesian  Youth  Council  for  Tactical  Changes  (IYCTC)  membuka  ruang  diskusi  yang mempertemukan  isu  TB  dan  pengendalian  konsumsi  rokok,  tepat  di  momentum  Hari  Anak Nasional.

Beban TB Anak Masih Tinggi

Ketua Yayasan STPI, dr. Donald Pardede, mengingatkan bahwa Indonesia masih menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan tahun 2025 mencatat estimasi 1.092.000 kasus TB setiap tahunnya.

“Saat  ini,  estimasi  kasus  baru  sudah  mencapai  kisaran  135.000  di  kelompok  anak,  di  mana fatalitasnya  juga  cukup  tinggi  berkontribusi  hingga  15%  dari  total kematian akibat TB secara nasional.  Terutama  bagi  balita  di  bawah  usia lima tahun, mereka memiliki risiko sangat tinggi mengalami kondisi TB jauh lebih berat dan fatal, seperti meningitis TB yang dapat menyerang selaput otak,” ujar Donald.  

Ia menjelaskan, kasus TB anak sering terlambat terdeteksi karena gejalanya yang tidak terlalu spesi?k, kadang hanya berupa berat badan susah naik atau demam berkepanjangan. Orang tua kerap  menganggap  ini  gejala  umum  penyakit  lain  dan  baru  waspada  ketika  kondisinya  tidak kunjung membaik dalam waktu lama.

"Begitu diagnosanya telat, risiko terbesar bukan cuma sakitnya, tapi juga mengganggu tumbuh kembang  ?sik  dan  kognitif  di  masa  emasnya.  Sayangnya,  upaya  penanggulangan  sering terhambat  dengan  tingginya  angka  kasus  yang  tidak  terlaporkan  (underreporting)  ke  dalam Sistem  Informasi  Tuberkulosis  (SITB),  yang  pada  akhirnya  menghambat  seluruh  upaya penanggulangan," lanjutnya.

"Pendekatan  untuk  menuju  eliminasi  TB  itu  tidak  bisa  berjalan  sendiri-sendiri.  Kita  harus memperkuat kebijakan dan mengintegrasikan pelayanan secara menyeluruh, mulai dari skrining aktif, perluasan cek kesehatan gratis bagi masyarakat, hingga penguatan investigasi kontak erat di  lapangan  agar  kontak-kontak  tersebut  bisa  segera  diproteksi  dengan  Terapi  Pencegahan Tuberkulosis  (TPT).  Apalagi  upaya  menutup  celah  ini  tidak  bisa  lepas  dari  masalah  konsumsi rokok yang tinggi dan membuat anak-anak kita terpapar," tutup Donald.

Krisis Konsumsi Rokok pada Anak

Menyambung hal tersebut, Direktur Eksekutif IYCTC, Manik Marganamahendra, menyoroti krisis konsumsi  rokok  pada  anak  yang terus melonjak tajam. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat jumlah perokok anak dan remaja usia 10–18 tahun meningkat signi?kan, dari 4,1 juta pada tahun 2018 menjadi sekitar 5,9 juta anak di tahun 2023.

"Kebiasaan merokok pada anak jarang lahir dari pilihan sadar, melainkan dari lingkungan yang sejak dini menormalisasi rokok, hingga akses yang murah dan mudah. Bayangkan, dengan jumlah perokok anak hampir 6 juta orang, betapa ironisnya ?skal negara kita ternyata disumbang dari anak-anak karena negara gagal melindungi mereka dari produk adiktif yang berbahaya. Belum lagi  mereka  harus  menanggung  beban  ganda berupa risiko tinggi tertular tuberkulosis akibat paru-paru yang dirusak asap rokok," tegas Manik.

Berdasarkan riset kolaboratif Universitas Indonesia bersama Imperial College London, sebanyak 78,4%  rumah  tangga  di Indonesia tercemar asap rokok. Tingkat paparan domestik ini menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, bahkan jauh melampaui negara-negara lain seperti Thailand dan Bangladesh.  Manik  melihat  fakta  ini  sebagai  sinyal  kuat  perlunya  perluasan konsep Kawasan Tanpa  Rokok  (KTR)  agar  tidak  hanya  menyasar  fasilitas  umum, tapi juga lingkungan terdekat anak.

Dari sisi kebijakan, adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan sebenarnya sudah progresif. Namun, Manik menyayangkan lambatnya penerbitan aturan teknis turunan dari PP tersebut, padahal sudah hampir dua tahun sejak pengesahan UU Kesehatan dan PP-nya.

"Sudah hampir 2 tahun PP 28 disahkan tapi belum ada satupun aturan teknis operasional yang keluar. Aturan yang melarang penempatan iklan rokok dalam radius 500 meter dari sekolah serta larangan penjualan 200 meter dari sekolah masih membutuhkan pengawalan ketat di lapangan agar  tidak  mandek.  Bahkan  di  daerah  yang  sudah  memiliki Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sekalipun, industri rokok masih sangat licik menyasar anak-anak lewat iklan ilegal di warung-warung,  belum  lagi  gempuran  di  ruang  digital  lewat  media  sosial  dan  promosi terselubung kreator konten yang dengan cepat menormalisasi perilaku merokok ini," ujarnya.  

Penjelasan Medis: Bagaimana Asap Rokok Membuka Jalan bagi TB

Ancaman  promosi  lewat  ruang  digital  tersebut  pun  akhirnya  sering  melahirkan  miskonsepsi medis  di  tengah  masyarakat. Dokter spesialis anak sekaligus health in?uencer, dr. Shela Putri Sundawa,  Sp.A  yang  turut  hadir  pada  diskusi  tersebut,  membedah  korelasi  klinis  yang  kuat antara asap rokok dan TB pada anak yang selama ini sering diabaikan oleh banyak orang tua.

"Pemahaman  publik  saat  ini masih minim mengenai bagaimana residu beracun di udara dapat merusak  paru  anak.  Paparan  asap  rokok  lingkungan  (second-hand smoke) secara independen meningkatkan  risiko  anak  terkena  penyakit  TB  aktif  sebesar  3,41  kali  lipat.  Bahkan,  setiap penambahan satu orang anggota keluarga yang merokok di rumah meningkatkan peluang infeksi TB laten pada anak hingga 2,56 kali lipat," jelasnya.

Secara  pato?siologis,  saluran  pernapasan  anak  dilapisi  oleh  jutaan  rambut  getar  mikro  yang disebut  silia,  yang  bekerja  menyaring dan mendorong keluar bakteri, debu, dan partikel asing yang terhirup. Ketika anak terpapar asap rokok secara terus-menerus, senyawa beracun seperti nikotin  dan  tar dapat melumpuhkan pergerakan silia (ciliary dyskinesia). Akibatnya, bakteri TB yang  terhirup  dapat dengan mudah lolos dari ?ltrasi saluran napas atas, langsung menginvasi alveolus,  dan  melumpuhkan  makrofag  alveolar  yang  seharusnya  bertugas  memakan  bakteri tersebut.

Lebih lanjut, nikotin dalam rokok dapat menekan produksi protein sitokin esensial, seperti TNF-? (Tumor Necrosis Factor-alpha) dan IL-12, yang bertugas mengaktifkan sistem imun.

"Tanpa pertahanan ini, bakteri TB bereplikasi tak terkendali dan memicu peradangan hebat yang merusak parenkim paru hingga hancur membentuk kavitas atau rongga kosong permanen pada paru-paru anak," jelas Shela.

Sebagai  penutup,  Shela  juga  memperingatkan  bahaya  laten  third-hand  smoke,  yaitu  residu beracun dari asap rokok yang menempel pada pakaian, kulit, rambut, sofa, hingga karpet rumah. Selama berhari-hari, residu ini tetap aktif secara biologis dan rawan terhirup atau tertelan oleh anak  saat  bermain  di  lantai.  Oleh  karena  itu,  ia  mendesak  para  orang  tua  untuk sepenuhnya berhenti merokok demi menyelamatkan sistem pernapasan buah hati mereka.

Tentang Stop TB Partnership Indonesia:  Yayasan Kemitraan Strategis Tuberkulosis Indonesia atau Stop TB Partnership Indonesia (STPI) meyakini bahwa eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia bisa dicapai dengan dilandasi kemitraan yang kuat antara unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat. STPI dimulai