Menembus Jalur Leter L, Dedy Satrya Tuntaskan Top Summit Indonesia di Gunung Rinjani
Menembus Jalur Leter L, Dedy Satrya Tuntaskan Top Summit Indonesia di Gunung Rinjani
KABARKARAWANG — Gunung Rinjani bukan sekadar gunung bagi para pendaki. Di balik ketinggiannya, tersimpan perjalanan panjang yang menguji fisik, mental, kesabaran, sekaligus kemampuan seseorang untuk bertahan ketika langkah mulai terasa berat.
Bagi Dedy Satrya, perjalanan menuju puncak Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menjadi bagian dari perjalanan panjangnya menuntaskan ekspedisi Top Summits Indonesia.
Pendaki dari komunitas Jurnalis Adventure itu berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun pada 28 September 2026. Perjalanan tersebut berlangsung dalam rangkaian pendakian yang dimulai sejak 26 September hingga 1 Oktober 2026.
Namun, perjalanan menuju puncak Rinjani tidak dimulai dari kaki gunung.
Dedy memulai perjalanan dari Karawang pada 24 September 2026. Dengan menggunakan transportasi umum bus Haryanto, ia menempuh perjalanan darat menuju Jawa Timur.
Pada 25 September 2026, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur. Dari pelabuhan tersebut, perjalanan diteruskan menggunakan kapal menuju Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Setibanya di Lombok, Dedy kemudian bergerak menuju Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.
Sembalun menjadi titik awal perjalanan menuju salah satu gunung yang selama ini menjadi impian banyak pendaki.
Sesampainya di Sembalun, Dedy memilih basecamp dormitory sebagai tempat beristirahat sementara. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi tubuh sekaligus mengurus berbagai keperluan administrasi pendakian.
Pada 27 September 2026, perjalanan menuju puncak resmi dimulai.
Sebelum melakukan pendakian, seluruh proses registrasi dilakukan di kantor Taman Nasional Gunung Rinjani. Setelah seluruh persyaratan pendakian selesai, Dedy bersama pendaki lainnya mulai menapaki jalur menuju kawasan perkemahan Plawangan Sembalun.
Langkah demi langkah dilewati.
Medan yang pada awal perjalanan masih relatif bersahabat perlahan berubah menjadi tantangan tersendiri. Tanjakan demi tanjakan harus dilalui dengan mengatur ritme, tenaga, dan pernapasan.
Dari titik awal pendakian hingga camp area Plawangan Sembalun, perjalanan membutuhkan waktu sekitar delapan jam.
Pada sekitar pukul 17.00 WITA, Dedy akhirnya tiba di kawasan camp area Plawangan Sembalun.
Malam itu bukan waktu untuk benar-benar bersantai. Tubuh memang membutuhkan istirahat, tetapi perjalanan menuju puncak justru baru akan dimulai beberapa jam kemudian.
Target berikutnya adalah summit attack.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 01.00 WITA ketika Dedy kembali bersiap meninggalkan camp. Dalam gelap malam, perjalanan menuju puncak Rinjani dimulai.
Headlamp menjadi sumber cahaya utama.
Di hadapannya terbentang jalur menuju puncak yang dikenal tidak mudah. Salah satu bagian yang menjadi tantangan adalah jalur Leter L, sebuah medan yang membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian ekstra.
Di sepanjang perjalanan, Dedy berjalan bersama pendaki lainnya. Sebagian besar pendaki yang ditemuinya berasal dari mancanegara.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada kendaraan yang bisa membawa seseorang mendekati puncak.
Setiap meter harus ditempuh dengan kekuatan kaki sendiri.
Ketika fajar mulai mendekat, langit perlahan berubah warna.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur sekitar pukul 04.36 WITA.
Namun, ketika cahaya pagi mulai menerangi kawasan Rinjani, Dedy masih berada dalam perjuangan menuju puncak.
Langkah terus dijaga.
Napas diatur.
Rasa lelah ditahan.
Hingga akhirnya, perjuangan panjang tersebut berbuah hasil.
Dedy Satrya berhasil mencapai puncak Gunung Rinjani.
Dari titik tertinggi tersebut, hamparan alam Lombok terbentang di hadapannya. Danau Segara Anak terlihat berada jauh di bawah, menjadi salah satu panorama yang membuat perjalanan panjang menuju puncak terasa memiliki arti.
Langit yang cerah memberikan kesempatan bagi Dedy untuk menikmati panorama Rinjani dari ketinggian.
Tetapi bagi Dedy, pencapaian tersebut bukan semata-mata tentang berdiri di titik tertinggi.
Ada pesan yang lebih dalam dari perjalanan tersebut.
“Bukan gunung yang kami taklukan, tapi diri sendiri.”
Kalimat itu menjadi refleksi Dedy setelah berhasil mencapai puncak Rinjani.
Sebab dalam pendakian, gunung pada dasarnya tidak pernah benar-benar dikalahkan. Gunung tetap berdiri dengan segala medan dan karakter alamnya. Yang diuji justru manusia yang mencoba menapaki jalurnya.
Setelah berada di puncak, Dedy kemudian turun dan kembali ke camp area sekitar pukul 10.00 WITA.
Istirahat menjadi bagian penting sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.
Tubuh membutuhkan waktu untuk mengumpulkan tenaga.
Namun, perjalanan belum selesai.
Rencana perjalanan pulang sebelumnya akan dilakukan melalui jalur Torean. Jalur tersebut merupakan salah satu jalur resmi pendakian Gunung Rinjani selain Sembalun dan Senaru.
Akan tetapi, kondisi di lapangan membuat rencana perjalanan harus menyesuaikan keadaan.
Kebakaran yang terjadi pada 24 September 2026 menyebabkan sejumlah kawasan terdampak, termasuk jalur Torean dan kawasan yang berkaitan dengan jalur Senaru. Kondisi tersebut membuat Taman Nasional Gunung Rinjani menutup kedua jalur tersebut untuk aktivitas pendakian.
Keselamatan akhirnya menjadi pertimbangan utama.
Perjalanan pun disesuaikan dengan kondisi dan aturan yang berlaku di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Pada 30 September 2026 sekitar pukul 17.45 WITA, perjalanan kembali menuju basecamp dormitory dilanjutkan.
Dengan kondisi tubuh yang tetap fit, Dedy menyelesaikan rangkaian perjalanan pendakiannya tanpa mengalami hambatan berarti.
Perjalanan panjang dari Karawang, menyeberangi laut, menuju Sembalun, kemudian menapaki jalur pendakian hingga puncak Rinjani menjadi satu rangkaian pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang ketinggian.
“Ada jarak yang harus ditempuh”.
“Ada lelah yang harus diterima”.
“Ada rasa takut yang harus dikendalikan”.
Dan ada kesabaran yang harus terus dijaga ketika puncak terasa masih jauh.
Bagi Dedy Satrya, pendakian Rinjani menjadi bagian dari perjalanan Jurnalis Adventure sekaligus perjalanan pribadi untuk menguji batas diri.
Gunung Rinjani memberikan pelajaran sederhana: tidak semua langkah harus cepat untuk sampai pada tujuan. Kadang, yang paling penting adalah terus melangkah meskipun perlahan.
Sebab puncak bukan hanya tentang siapa yang paling kuat.
Puncak adalah milik mereka yang mampu bertahan sampai langkah terakhir.
“Gunung mengajarkan arti sabar dalam setiap langkah. Puncak hanya milik mereka yang bertahan,” tutup Dedy Satrya.

Komentar via Facebook