TB Partnership Indonesia Soroti Usulan Menkes Terkait MBG untuk Orang Dengan TB: “Tata Kelola yang Kuat Harus Jadi Perhatian”

TB Partnership Indonesia Soroti Usulan Menkes Terkait MBG untuk Orang Dengan TB: “Tata Kelola yang Kuat Harus Jadi Perhatian”

TB Partnership Indonesia Soroti Usulan Menkes Terkait MBG untuk Orang Dengan TB:  “Tata Kelola yang Kuat Harus Jadi Perhatian”

KABARKARAWANG - Stop TB Partnership Indonesia (STPI) menilai usulan Menteri Kesehatan  Budi  Gunadi  Sadikin  untuk  memasukkan  Orang  Dengan  Tuberkulosis (TB)  sebagai  penerima  manfaat  Program  Makan  Bergizi  Gratis  (MBG)  sebagai sebuah  gagasan  yang  perlu  direspons  secara  serius.  Namun,  STPI  menekankan bahwa perluasan ini hanya akan berdampak nyata jika dirancang dengan tata kelola yang  tepat,  termasuk  standar  kecukupan  gizi  yang  secara  khusus  disesuaikan dengan kebutuhan medis orang dengan TB, yang tidak dapat disamaratakan dengan kelompok sasaran MBG yang ada saat ini.

Nutrisi dan TB: Hubungan yang Tak Terpisahkan Malnutrisi dan TB memiliki hubungan yang erat dan saling memperburuk. Status gizi  yang  baik  terbukti  secara  ilmiah  mampu  meningkatkan  daya  tahan  tubuh, mempercepat  pemulihan,  dan  mendukung  keberhasilan  pengobatan  TB  yang berlangsung  selama  6  hingga  12 bulan. Dukungan nutrisi bagi orang dengan TB bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari tata laksana pengobatan yang efektif.

Kenyataannya,  orang  dengan  TB,  khususnya  mereka  yang  berada  di  2  desil terbawah strata sosial ekonomi, seringkali tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi harian  yang  memadai  selama  menjalani  pengobatan.  Kondisi  ini  memperlambat pemulihan, meningkatkan risiko putus obat, dan pada akhirnya berkontribusi pada angka kematian yang masih tinggi. Indonesia mencatat sekitar 126.000 kematian akibat TB setiap tahunnya, atau setara dengan 2 jiwa setiap 5 menit.

Pengalaman  negara-negara seperti India dan Tiongkok juga membuktikan bahwa dukungan nutrisi yang terstruktur bagi orang dengan TB memberikan dampak nyata terhadap  angka  kesembuhan  dan  kelangsungan  hidup  mereka.  STPI  mendorong agar dasar ilmiah ini menjadi landasan utama dalam merancang perluasan program MBG.   Rilis Untuk segera disiarkan    

Mendukung Ide, Mendorong Tata Kelola yang Tepat STPI mendukung penuh semangat di balik usulan ini. Namun, agar perluasan MBG untuk  orang  dengan TB benar-benar memberikan manfaat optimal dan terhindar dari  potensi  dampak  negatif,  STPI  mendorong  agar  implementasinya  dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal pokok: •    Targeting  yang  tepat  sasaran:  Prioritaskan  orang  dengan  TB  dari kelompok  sosial  ekonomi  terbawah  yang  paling  rentan  mengalami kekurangan  gizi.  Perluasan  yang  terlalu  luas  tanpa  prioritisasi  berisiko mengurangi efektivitas program. •    Standar  kecukupan  gizi  yang sesuai: Kebutuhan gizi orang dengan TB berbeda  secara  signi?kan  dari  anak  usia  sekolah.  Orang  dengan  TB memerlukan kandungan protein, kalori, dan mikronutrien yang lebih tinggi untuk  mendukung  proses  penyembuhan.  Standar  gizi  MBG  perlu diformulasikan  secara  khusus  untuk  kelompok  ini,  bukan  sekadar mengadaptasi formula yang sudah ada. •   Dukungan  yang  menyeluruh:  Nutrisi  harus  berjalan  beriringan  dengan jaminan  keamanan  pangan,  kualitas  layanan  kesehatan,  pendampingan kepatuhan  pengobatan  (treatment  adherence),  dan  perlindungan  sosial. Program MBG perlu diintegrasikan dengan sistem layanan kesehatan yang ada, bukan berjalan terpisah. •

     

Inovasi dalam paket sediaan dan mekanisme penyampaian: Kondisi medis orang  dengan  TB,  termasuk  efek  samping  pengobatan  seperti  mual, anoreksia,  dan  gangguan  pencernaan  yang  kerap  memengaruhi  nafsu makan  dan  toleransi  makanan,  menuntut  inovasi dalam bentuk sediaan gizi,  tidak  terbatas  pada  paket  makanan  konvensional.  Suplemen  gizi, makanan forti?kasi, atau formula khusus perlu dipertimbangkan sebagai alternatif. Mekanisme penyampaiannya pun perlu beragam: selain melalui kunjungan  ke  fasilitas  layanan  kesehatan,  distribusi  melalui  kader kesehatan langsung ke rumah pasien perlu menjadi opsi, khususnya bagi pasien yang tidak mobile, tinggal di daerah terpencil, atau menghindari tempat umum karena kekhawatiran akan stigma.   Rilis Untuk segera disiarkan    •    Mitigasi dampak negatif: Perlu diantisipasi potensi stigma terhadap orang dengan TB dalam proses distribusi bantuan, serta memastikan mekanisme penyaluran yang menjaga privasi dan martabat penerima manfaat.

Pernyataan STPI “Kami menghargai inisiatif Kementerian Kesehatan dalam mengusulkan perluasan MBG untuk orang dengan TB. Namun, sebagai mitra strategis pemerintah dalam penanggulangan  TB, STPI menyarankan perlu memperhatikan perihal gizi, orang dengan  TB  bukan  semuanya  anak  sekolah,  kebutuhan  gizi  mereka  jauh  lebih kompleks  dan  spesi?k  secara  medis.  Program  ini  harus  dibangun  di  atas  tiga fondasi. Pertama, targeting yang benar-benar menyasar kelompok paling rentan di strata  ekonomi  terbawah.  Kedua,  standar  kecukupan  gizi  yang  diformulasikan khusus  berdasarkan kebutuhan klinis orang dengan TB, bukan sekadar replikasi formula yang sudah ada. Dan ketiga, integrasi yang nyata dengan sistem layanan kesehatan, pendampingan pengobatan, dan perlindungan sosial. Tanpa tiga hal ini, program  yang  niatnya  mulia  pun  berisiko  tidak  memberikan  dampak  yang  kita harapkan  bersama,  bahkan  berpotensi  menimbulkan  masalah  baru.  Indonesia menargetkan  eliminasi  TB  pada  2030.  Waktu  kita  tidak  banyak,  dan  setiap kebijakan harus tepat sasaran.”

— dr Donald Pardede, MPPM Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia  

STPI berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam mengeliminasi TB di Indonesia pada 2030 dan siap memberikan masukan teknis dalam penyusunan kebijakan perluasan MBG ini.

 

     Rilis Untuk segera disiarkan   KONTAK: Ahlaqul Karima Yawan | ahlaqul.y@stoptbindonesia.org Copywriter and Brand Specialist Stop TB Partnership Indonesia  Tentang Stop TB Partnership Indonesia Yayasan  Kemitraan  Strategis  Tuberkulosis  Indonesia  atau